Vaksin
Apakah Vaksin Itu?
Vaksin berasal dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar
Apakah Vaksinasi itu?
Kata vaksinasi berasal dari bahasa Latin vacca yang berarti sapi - diistilahkan demikian karena vaksin pertama berasal dari virus yang menginfeksi sapi (cacar sapi). Vaksinasi sering juga disebut dengan imunisasi
Penemuan Vaksinasi
Apa sajakah persyaratan vaksin?
Bagaimanakah pengklasifikasian vaksin?
Vaksin ini berisi mikroorganisme yang telah dilemahkan virulensi (keganasannya). Pengurangan virulensi dikenal dengan istilah atenuasi (perlemahan). Cara atenuasi yang sederhana terhadap bakteri untuk keperluan vaksinasi adalah dengan pemanasan bakteri sampai tepat di bawah titik kematian atau memaparkan bakteri pada bahan kimia penginaktif sampai batas konsentrasi subletal. Menumbuhkan bakteri pada medium yang tidak cocok untuk pertumbuhannya, contohnya : Vaksin kolera unggas (Pasteurella multocida) oleh Pasteur ditumbuhkan di bawah keadaan yang kekurangan zat makanan.
Cara etenuasi terhadap virus adalah dengan membiakkan pada spesies yang
tidak sesuai untuk tumbuhnya. Cara etenuasi lainadalah menumbuhkan virus mamalia pada telur atau menumbuhkan pada telur lain jenis. Cara etenuasi yang umum adalah dengan memperpanjang masa pembiakannya di jaringan pembiak. Meskipun jaringan pembiak dapat diperoleh dari berbagai jenis, umumnya menggunakan sel biakan dari jenis hewan yang akan divaksinasi guna mengurangi efek samping akibat pemasukan jaringan asing.
Vaksin yang diinaktivasi,mikro-organisme yang telah dihancurkan dengan bahan kimia, radioaktivitas panas, atau antibiotik. Contohnya vaksin influenza, vaksin kolera, vaksin polio,dll.
Vaksin yang saat ini digunakan-sebagaimana juga di seluruh dunia-diproduksi dengan teknologi DNA rekombinan, yaitu hasil kloning gen virus hepatitis B dalam sel kapang. Teknologi ini digunakan sejak tahun 1980-an menggantikan vaksin generasi pertama yang dibuat dari plasma darah pengidap. Kelemahan vaksin rekombinan adalah penggunaan thimerosal (merkuri organik) sebagai pengawet. Zat ini dicurigai menimbulkan gangguan pada otak seperti autis. Karenanya negara-negara maju mengembangkan vaksin tanpa thimerosal.
o perlu perhatian yang luar biasa pada saat pembuatan guna memastikan bahwa tidak tersisa virus virulen aktif di dalam vaksin
o Kekebalan berlangsung singkat, sehingga harus ditingkatkan kembali dengan pengulangan vaksinasi yang mungkin menimbulkan reaksi-reaklsi hipersensitifitas
o Pemberian secara parenteral memberikan perlindungan yang terbatas
o Resistensi lokal pada pintu-pintu masuk alamiah/multiplikasi utama infeksi virus tidak terjadi. Memerlukan adjuvan untuk meningkatkan antigenisitas yang efektif.
Apa sajakah jenis – jenis vaksin?
Hepatitis A adalah infeksi virus yang mempengaruhi hati, dan dapat menyebabkan sejumlah gejala, termasuk demam, kelelahan, sakit kuning, dan kehilangan nafsu makan. Anak-anak usia 12 sampai 23 bulan pada umumnya mendapatkan dua dosis vaksin Hepatitis A, dengan interval minimal enam bulan diantara vaksinasi. Efek samping vaksinasi ini adalah rasa sakit di tempat suntikan, sakit kepala, dan hilangnya nafsu makan.
Bayi harus mendapatkan vaksin hepatitis B ini setelah lahir, lalu vaksin kedua pada umur 1 sampai 2 bulan dan vaksin ketiganya pada umur 6 sampai 18 bulan. Vaksin bayi atau vaksin anak hepatitis B ini melindungi anak dari virus hepatitis B yang dapat menginfeksi hati. Vaksin ini juga dapat diberikan kepada bayi selama proses persalinan jika ibu terbukti terinfeksi. Virus ini bisa menular ke orang lain lewat kontak darah atau cairan tubuh lain (berbagi sikat gigi dan peralatan dapat meningkatkan resiko terkena penyakit). Rasa sakit di lokasi suntikan atau demam ringan adalah efek samping yang paling umum setelah vaksinasi jenis ini.
Memberikan perlindungan terjadap anak terhadap berbahaya berjenis difteri (kuman yang dapat membentuk selaput abu-abu atau hitam di tenggorokan), tetanus (infeksi yang dapat menyebabkan kejang otot yang begitu kuat hingga bisa mematahkan tulang), dan pertusis (penyakit menular yang menyebabkan penyakit parah, batuk tak terkendali, yang dikenal sebagai batuk rejan). Vaksin bayi DTaP ini diberikan kepada anak-anak selama 5 kali dosis masing-masing pada umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 sampai 18 bulan, dan 4 sampai 6 tahun. (penguat pada usia 11 atau 12 dan kemudian setiap 10 tahun. sekali). DTaP dapat dikombinasikan dengan vaksinasi lain untuk mengurangi frekuensi suntikan vaksin. Sekarang, DTaP dengan hepatitis B dan vaksin polio pemberiannya bisa digabung.
Vaksin virus MMR ini bertujuan untuk melindungi anak terhadap tiga virus berbahaya, yaitu campak (yang menyebabkan demam tinggi dan ruam tubuh-lebar), gondok (yang menyebabkan rasa sakit wajah, pembengkakan kelenjar liur, dan kadang-kadang pembengkakan skrotum pada laki-laki), dan rubella atau campak Jerman (yang dapat menyebabkan kecacatan lahir jika infeksi terjadi selama kehamilan). Vaksinasi pertama diberikan pada umur 12 hingga 15 bulan usia dan sekali lagi pada usia antara 4 dan 6 tahun.
Ruam berair, berbekas dan terasa semakin gatal ketika digaruk ini merupakan penyakit cacar air. Cacar air disebabkan oleh virus varicella, yang biasanya terjadi pada manusia di segala umur. Varicella merupakan virus yang aktif, karena bisa menular ke orang lain setelah adanya kontak langsung dengan penderita. Virus ini bahkan banyak mengakibatkan kematian di masa lalu. Namun setelah vaksinnya yang berisikan virus yang telah dibunuh ini disebarluaskan ke seluruh dunia sejak tahun 1995, jumlah kasus untuk cacar air ini menurun. Infeksi cacar air ini bisa menyebabkan kematian pada orang yang tidak pernah divaksin cacar air. Beberapa orang yang sudah pernah divaksin pun juga masih bisa terserang sebagai akibat ketidakmampuan tubuh untuk mendapatkan kekebalan dari vaksin yang sudah pernah masuk dalam tubuh itu. Namun dengan ilmu pengobatan yang sudah modern, cacar air bisa disembuhkan. Pemberian vaksin dan imunisasi terhadap virus ini biasanya dilakukan dua kali, yaitu pada umur 12 sampai 15 bulan dan antara 4 hingga 6 tahun. Vaksin ini dapat menyebabkan rasa sakit di lokasi suntikan, demam dan dalam beberapa kasus menyebabkan ruam ringan.
Haemophilus influenza tipe b adalah bakteri yang menyebabkan meningitis. Meningitis merupakan peradangan selaput otak dan sumsum tulang belakang yang sangat berbahaya untuk anak-anak di bawah usia 5 tahun. Vaksin Hib atau vaksin meningitis ini umumnya diberikan pada usia 2, 4, 6, dan 12 sampai 15 bulan. Tergantung pada vaksin bayi yang digunakan. Efek samping vaksinasi untuk jenis vaksin ini bisa berupa demam, bengkak, dan kemerahan di lokasi suntikan.
Vaksin Polio merupakan salah satu vaksin yang berhasil karena semenjak adanya vaksin ini terjadi penurunan kasus polio pada masyarakat. Namun kasus polio yang terjadi sekarang ini disinyalir akibat penggunaan vaksin yang mengandung virus yang telah dibunuh ini belum merata di seluruh dunia. Polio adalah berita buruk, dan dapat menyebabkan kelumpuhan dan bahkan kematian. Anak-anak diberikan vaksin IPV atau vaksin polio ini di usia 2 bulan, 4 bulan, antara 6 sampai 18 bulan, dan sekali lagi pada usia antara 4 dan 6 tahun.
Vaksin ini, dikenal sebagai PCV13 (nama merek Prevnar 13), melindungi terhadap 13 jenis Streptococcus pneumoniae, yang merupakan bakteri yang dapat menyebabkan segala macam kekacauan, termasuk meningitis, pneumonia, infeksi telinga, infeksi darah, dan bahkan kematian. Vaksinasi PVC ini diberikan kepada anak-anak selama empat kali yaitu pada umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 12-15 bulan. Pemberian vaksin untuk melindungi anak-anak terhadap kuman yang dikenal secara kolektif sebagai bakteri pneumokokus. Efek samping yang paling umum dari vaksinasi ini meliputi mengantuk, bengkak di tempat suntikan, demam ringan, dan mudah tersinggung.
Vaksin yang bertujuan untuk memberikan kekebalan bagi tubuh terhadap serangan virus influenza. Kebanyakan dari vaksin ini diberikan pada Negara-negara dnegan empat musim, tepatnya pada musim gugur. Karena influenza merupakan penyakit umum yang menyerang, maka pemberiaannya dilakukan terhadap anak umur 6 bulan atau lebih. Anak yang alergi telur tidak harus diberikan vaksin ini, namun jika pemberiannya dilakukan pada anak 6 bulan, maka dokter tidak tahu menahu apakah anak tersebut alergi telur atau tidak. Rasa sakit adalah hal umum yang terjadi setelah vaksinasi, selain itu beberapa anak juga mengalami demam, nyeri serta kemerahan atau bengkak di tempat suntikan.
Beberapa merk yang umum untuk vaksin ini adalah RotaTeq dan Rotarix yang diberikan kepada anak usia 2 dan 4 bulan. Rotavirus merupakan virus penyebab penyakit diare serta muntah-muntah bagi anak-anak, hampir di seluruh dunia. Sehingga untuk mencegah kemungkinan terburuknya, anak biasanya diberikan vaksin Rotavirus ini untuk melindungi dan melawan virus Rotavirus. Pemberian vaksin ini adalah secara oral karena berbentuk cairan. Beberapa anak biasanya mengalami muntah serta diare ringan setelah proses vaksinasi.
Vaksin ini, dikenal sebagai MCV4 (nama merek Menactra dan Menveo), melindungi terhadap bakteri meningokokus, yang dapat menginfeksi selaput otak dan sumsum tulang belakang. Pemberian vaksin MCV4 ini direkomendasikan untuk anak-anak di usia 11 atau 12 tahun, dan siapapun antara usia 2 dan 55 yang memiliki peningkatan risiko infeksi penyakit ini. Efek samping yang umum terjadi setelah vaksinasi adalah rasa sakit kecil di lokasi suntikan.
Vaksin Human papillomavirus (HPV) (nama merek Gardasil, Cervarix) diberikan dalam tiga dosis selama 6 bulan, dan juga diberikan untuk anak perempuan antara usia 9 hingga 26 tahun. Walaupun ada lebih dari seratus jenis virus HPV, vaksin ini melindungi terhadap dua jenis virus penyebab penyakit menular seksual yang merupakan penyebab paling umum kanker serviks. Gardasil juga melindungi anak terhadap dua jenis virus yang menyebabkan permasalahan vagina seperti kutil kelamin dan pemberiaan vaksin ini telah diijinkan untuk anak laki-laki antara 9 dan 26 tahun. Vaksin ini hanya bekerja jika diberikan sebelum infeksi, sehingga dokter merekomendasikan hal ini untuk anak-anak baik sebelum anak-anak itu aktif secara seksual.
Apakah manfaat vaksinasi?
Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian.
Menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan bila anak sakit. Mendorong keluarga kecil apabila si orang tua yakin bahwa anak-anak akan menjalani masa anak-anak dengan aman.
Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal sehat untuk melanjutkan pembangunan negara dan memperbaiki citra bangsa Indonesia diantara segenap bangsa di dunia
Bagaimanakah Cara Kerja Vaksin?Vaksin menyiapkan tubuh agar siap melawan penyakit tanpa memaparkan gejala-gejala penyakit tertentu. Berikut cara kerjanya :
Saat penyusup asing seperti bakteri atau virus memasuki tubuh, sel kekebalan Lymphocytes merespon dengan memproduksi molekul protein (antibodi). Antibodi inilah yang melawan penyusup (antigen) dan melindungi agar tak terjadi infeksi lebih lanjut.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), individu sehat bisa menghasilkan jutaan antibodi sehari guna melawan infeksi akibat masuknya antigen yang tak diketahui ke dalam tubuh secara efisien.
Namun saat pertama tubuh menghadapi penyusup ini, butuh beberapa hari agar antibodi mau merespon. Pada antigen yang benar-benar 'menjijikkan', seperti campak atau batuk, beberapa hari agar antibodi muncul terasa terlalu lama.
Pasalnya, infeksi bisa menyebar, bahkan membunuh seseorang sebelum sistem kekebalan sempat melawannya. Saat itulah, vaksin datang.
Menurut Children’s Hospital of Philadelphia Vaccine Education Center, vaksin terbuat dari antigen mati atau lemah.
Antigen ini tak bisa menyebabkan infeksi, namun sistem kekebalan tubuh masih menganggapnya sebagai musuh dan meresponnya dengan antibodi. Setelah ancaman berlalu, banyak antibodi ‘pergi’, namun sel kekebalan meminta sel memori tetap tingggal.
Saat tubuh menghadapi antigen kembali, sel memori menghasilkan antibodi dengan cepat dan menyerang penyusup sebelum terlambat. Vaksin juga bekerja di tingkat komunitas.
Menurut CDC, orang yang terlalu muda atau sistem kekebalannya terlalu lemah tak bisa divaksin.
Namun, jika semua orang divaksin, orang yang tak divaksin akan dilindungi Herd Immunity. Dalam kata lain, hal inilah yang menjaga orang tak terinfeksi sehingga tak sakit. (teknologi.inilah.com/ humasristek)
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar